Ciri-ciri Rumah Sebagai Mesin Pembunuh Bakat Anak

Bagi orang tua, seringkali ditemukan kurang memperhatikan dan cenderung melarang kegiatan-kegiatan aktivitas yang disukai anak. Menurut Munif Chatib dalam salah satu bukunya ada dua institusi yang mirip mesin pembunuh bakat anak, yaitu rumah dan sekolah. Berikut adalah ciri-ciri rumah sebagai mesin pembunuh bakat anak :

  • Larangan Melakukan Aktivitas yang Disukainya

Anda memiliki handphone baru digeletakkan di atas meja. Anak anda yang berusia dini melihat HP tersebut sehingga langsung meraihnya, mengamati, lalu menekan-nekan tombolnya. Biasanya, kita akan langsung marah dan merebut HP itu dari anak sehingga terjadi upaya saling rebut. Oleh karena merasa sebagai orangtua, kita bisa jadi langsung membentak atau memukul anak, gara-gara HP itu, “Nakal kamu ya! Ini HP baru, mahal, bukan mainan tau!”

Jika sikap anda demikian, tidak hanya soal HP , apa pun yang membuat rasa ingin tahu anak, lalu anda melarangnya, maka anda dan rumah telah nenjadi mesin pembunuh bakat anak.

Ketika anak kita melakukan aktivitas baru yang disukainya, jangan langsung dilarang jika kita tidak menyukai kelalukannya. Percayalah, hal itu adalah perintah otak anak untuk mendpatkan pengalaman belajar. Jika sudah mendapatkan pengalaman belajar, lalu sang anak terus-menerus ingin melakukan aktivitas tersebut meskipun berisiko negatif, maka sah-sah saja anda menghentikannya. Misalkan dengan mengajak anak memegang HP tersebut bersama-sama dan belajar fungsi-fungsi tombol-tombolnya. Meskipun belum memahaminya, namun rasa ingin tahu tentang benda bernama HP itu akan tersalurkan.

  • Selalu Menyebut Anak Dengan Sebutan Negarif

Ketika anak mendapat nilai 5 untuk matematika, bahasa inggris atau bisang studi apapun, secara spontan respon anda langsung mengatakan “Uh, dasar geblek! Masa soal segampang ini kamu tidak bisa!”

Jika anda selalu melakukan discovering disability atau memberi label-label negatif kepada anak, maka bakat anak tidak akan pernah muncul. Dengan kata lain, kebiasaan tadi menyebabkan anda & rumah menjadi mesin pembunuh bakat anak.

  • Tidak Memberi Kebebasan Untuk Berekspresi Kepada Anak

Pada masa usia berapapun, sebenarnya anak membutuhkan ruang bebas untuk berekspresi. Semisal ketika seorang anak suka bermain dan berkumpul dengan teman sebaya baik tetangga maupun teman sekolahnya. Selama kelompok atau teman-temannya tersebut positif sangat disarankan akan membiarkannya, tentunya masih dengan pengawasan.

Ruang berekplorasi dan berekspresi sangatlah penting. Jika anak tidak diberi kesempatan berkespresi dan bereksplorasi untuk memenuhi rasa ingin tahunya, anda dan rumah menjadi mesin pembunuh bakat anak.

  • Hukum yang Tidak Mendidik Kepada Anak

Biasanya, ada dua hukuman, yaitu hukuman fisik dan hukuman psikis. Hukuman fisik antara lain memukul, mencubit, menarik rambut, menampar dan sejenisnya. Sedangkan hukuman psikis antara lain mengurung anak, mengomeli, memaki, meneriaki dan sejenisnya. Kedua hukuman tersebut sama-sama tidak dianjurkan. Lalu, apakah orangtua sama sekali tidak boleh menghukum anaknya?

Masih menurut Munif Chatib dalam bukunya, istilah “hukuman” harus dirubah menjadi pengajaran atau konsekuensi. Kemudian, orangtua menentukan Jenis Konsekuensi yang sesuai dengan usia anak. Biasanya konsekuensi paling efektif adalah menunda sementara waktu aktivitas paling digemari anak. Jadi, sesungguhnya tak ada hukuman, yang ada hanya konsekuensi. Hukuman yang tidak mendidik. Biasanya malah akan menimbulkan pengaruh buruk pada anak, diantaranya :

  1. Anak akan terbiasa menyerah saat menghadapi paksaan dan punya anggapan bahwa siapa yang kuat, dialah yang menang.
  2. Anak akan punya anggapan negatif terhadap penghukum sehingga membuat dia keras kepala.
  3. Anak akan menjadi penakut, memiliki kepribadian buruk, serta keseimbangan psikologis yang terganggu.

Jika kondisi tersebut dialami anak secara terus-menerus, otomatis, rumah menjadi mesin yang canggih untuk membunuh bakat anak.

  • Tekanan Anak Terhadap Prestasi di Sekolah

Terkadang, orangtua berharap agar anak berprestasi akademik di Sekolah dengan cara memaksa atau menekan. Sekolah tiba-tiba berubah fungsi menjadi penjara bagi anak, sebab didalamnya ada setumpuk tugas kognitif yang harus diselesaikan dan mendapat nillai tinggi. Sekolah berubah fungsi, dari institusi pembelajaran yang menyenangkan, menjadi wadah pemaksaan anak untuk dibentuk sesuai dengan keinginan atau kurikulum Sekolah. Kemudian di rumah, orangtua menerima mentah-mentah kondisi ini sehingga bagi anak rumah adalah penjara kedua setelah sekolah dan tiada hari untuk bersenda-gurau di rumah bersama keluarga. Yang terjadi anak menghabiskan seluruh waktunya untuk mengerjakan pekerjaan rumah demi mengejar prestasi akademin. Rumah semacam ini praktis akan menjadi mesin pembunuh bakat anak.

Sumber : Buku Orangtuanya Manusia karya Munif Chatib
Gambar : Kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.