Tidak perlu peraturan dan disiplin yang kaku dan keras

Sudah pernah dibahas sebelumnya, bahwa kebiasaan aktivitas anak usia dini kadang membahayakan keselamatan mereka, padahal kebutuhan pengalaman belajarnya sudah terpenuhi. Saat itulah, waktu yang tepat, anak diperkenalkan pada peraturan dan disiplin. Sering kali orangtua lupa bahwa disiplin adalah akibat, dari tegaknya peraturan sehingga orangtua sering mengatakan anaknya tidak disiplin. Padahal, kenyataannya anak tidak pernah diperkenalkan aturan tentang kedisiplinan.

Jadi, kedisplinan itu merupakan kelanggenan, saat anak mematuhi peraturan yang sudah dipahami. Jika tidak diawali dengan peraturan yang dijelaskan terlebih dahulu kepada anak, seyogianya orangtua tidak boleh melabeli anak mereka tidak disiplin.

Pemahaman tentang peraturan untuk sang RAJA kecil diberikan dengan cara learning by doing dan learning by example, tidak perlu dilakukan dengan cara kaku dan keras.  Keberhasilannya, jika sang RAJA punya kedisiplinan permanen, dia akan punya kedisiplinan internal dalam dirinya. Bahkan, dia mampu menjelaskan alasannya sehingga mampu menarik orang lain untuk melakukan upaa disiplin tersebut.

Misalnya, orangtua membuat peraturan sholat subuh, yang mungkin berat untuk dilakukan anak usia dini. Namun, hal ini penting dilakukan agar terbentuk kebiasaan bangun untuk melakukan sholat subuh. Cara paling efektif agar peraturan yang sudah disepakati tersebut berhasil dijalankan. Orangtua harus membangunkan anak, mengajaknya berudhu dan melakukan sholat bersama. Begitulah setiap hari hingga akan terbentuk kebiasaan anak kita. Tidak mungkin anak akan melakukan sholat subuh jika peraturan tadi hanya ditulis, lalu ditempel di meja belajar atau dinding kemar anak.

Sumber : Buku Orangtuanya Manusia karya Munif Chatib
Gambar : freepik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.