Sang raja kecil #3 – Memperhatikan anak dengan santun, kelembutan dan kasih sayang.

memeluk

Anak usia dini punya sensitifitas tinggi, cobalah pancing respons bayi dengan menampilkan wajah yang paling lucu disertai senyuman atau tawa sehingga bayi akan ikut tertawa. Lalu, cobalah tampilkan ekspresi yang menyeramkan disertai suara berat. Tentunya bayi akan menangis dengan keras. Dengan cara-cara tersebut, kita telah membuktikan perasaan kelembutan pada bayi. Padahal, bayi belum memahami makna mengapa kita melakukannya.

Sudut pandang psikologi menyatakan bahwa anak yang menerima cinta dan kasih sayang dari orang tuanya selama masa pertumbuhan ternyata lebih cerdas dan sehat daripada anak usia dini yang tumbuh di asrama (panti) dan terpisah dari orangtuanya. Ibrahim Amini, dalam bukunya yang berjudul Anakmu Amanah-nya* menyatakan hasil sebuah penelitian yang dilakukan Dr. Hasan Ahdi, kepada Divisi Psikiatri Nasional Society for Care of Childern yang meneliti 500 narapidana. Dia memperoleh data bahwa mereka melakukan tindakan kriminal pertama diusia 12-13 tahun. Simpulan dari penelitian tersebut menyatakan bahwa penyebab kejahatan utama adalah : kurangnya cinta dan kasih sayang keluarga pada masa kecil.

Sang RAJA kecil tidak membutuhkan kewenangan untuk menghukum atau membuat peraturan bagi rakyatnya. Mereka hanya butuh kelembutan dan kasih sayang orantuanya. Berbicaralah yang lembut, memeluk atau menciumnya, dan biasa memanggil mereka dengan sebutal-sebutan yang indah dan positif.

Munif Chatib dalam bukunya menghimbau para orangtua agar membiasakan diri untuk memberikan rasa cinta dan kasih sayang sederhana kepada sang RAJA kecil, antara lain sebagai berikut :

  • Membiasakan bersuara menyejukkan kepada anak kita. Jangan biasakan membentak.
  • Membiasakan memeluk dan mencium anak pada usia dini, sebab pelukan dan ciuman itu akan dirasakan sebagai selimut kelembutan bagi mereka.
  • Membiasakan memberi sebutan atau gelar yang positif jika memanggil mereka. Misalkan : si ganteng, si manis, si pinter.

 

Sumber : Buku Orangtuanya Manusia karya Munif Chatib
Gambar : huffingtonpost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.