Sang raja kecil #2 – Antara rasa ingin tahu dan kebiasaan

Antara rasa ingin tahu dan kebiasaan

Otak anak membutuhkan pengalaman belajar akan rasa ingin tahunya untuk membangun anyaman fondasinya. Ketika orangtua memberikan kesempatan kepada anaknya untuk menaiki meja tersebut, tentunya dengan pengamanan yang cukup, hal tersebut adalah positif. Pengalaman menaiki meja akan menjadi sebuah “pegalaman” yang terpatri dalam otaknya. Biasanya anak ingin melakukannya lagi. Jika itu terjadi, kebutuhan otaknya belum tuntas. Sampai kapan ketuntasan pengalaman belajar menaiki meja itu akan berakhir? Setiap anak berbeda-beda.

Ada dua tahap penting yang terjadi pada sang RAJA kecil, yaitu tahap pemenuhan kebutuhan rasa ingin tahu dan tahap pengalaman belajar menjadi kebiasaan. Orangtua harus memenuhi tahap pertama, sedangkan pada tahap kedua, untuk membangun kebiasaan yang baik dibutuhkan peraturan dan kedisiplinan untuk membangun karakter positif anak.

Namun, jika menaiki meja dilakukan oleh sang anak setiap hari, bahkan ketika ada tamu juga ingin terus naik meja, kita bisa mengartikannya sebagai awal terbentuknya kebiasaan anak. Perilaku anak ini sudah memasuki tahap selanjutnya, yaitu tahap kebiasaan. Ingat, kebiasaan ini bisa baik dan buruk.

Kebiasaan menaiki meja tanpa memandang lingkungan sekitarnya hingga orangtua merasa kebiasaan itu kurang sopan, maka sah-sah saja orangtua bertindak untuk menghentikannya. Pada tahap kebiasaan inilah orangtua dapat menetapkan semacam peraturan kepada anak untuk tidak menaiki meja. Antisipasi ini tidak akan mempengaruhi perkembangan otaknya sebab tahap pertamanya sudah dilakukan oleh sang anak.

Sumber : Buku Orangtuanya Manusia karya Munif Chatib
Gambar : freepik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.